Apa itu antispoofing?

Antispoofing adalah teknik untuk mengidentifikasi dan membuang paket yang memiliki alamat sumber palsu.

Dalam serangan spoofing, alamat sumber dari paket yang masuk diubah agar tampak seolah-olah berasal dari sumber yang dikenal dan dipercaya. Paket yang dipalsukan sering digunakan untuk melakukan serangan penolakan layanan (DoS), mengeksploitasi kerentanan jaringan dan sistem, serta mendapatkan akses tidak sah ke jaringan dan data perusahaan.

Tujuan utama dari setiap penawaran keamanan siber, seperti teknologi antispoofing, adalah melindungi data dan informasi organisasi dari serangan yang dapat mengancam kerahasiaan, integritas, dan ketersediaan informasi tersebut. Menggunakan teknik antispoofing bersama dengan sumber daya keamanan siber lainnya melindungi informasi pribadi (PII), data bisnis penting, dan reputasi organisasi.

Langkah-langkah antispoofing biasanya tertanam dalam aturan yang diterapkan pada perangkat gateway jaringan yang memeriksa paket yang masuk. Penyedia layanan internet juga menerapkan langkah-langkah antispoofing atas nama pelanggan mereka.

Jenis-jenis spoofing

Serangan spoofing didasarkan pada replikasi sumber yang dikenal dan dipercaya, seperti situs web, dan menipu korban agar mengaksesnya. Berikut adalah delapan jenis serangan spoofing:

  • Website spoofing. Penyerang membuat domain dan situs web yang hampir identik dengan situs asli. Mereka sering menggunakan iklan, penawaran khusus, dan trik lainnya untuk menarik korban ke situs palsu. Setelah korban mengakses situs palsu, penyerang menipu mereka untuk memberikan PII seperti nomor jaminan sosial, nomor telepon, dan rekening bank.
  • Email spoofing. Penyerang mengirim email yang tampak berasal dari sumber terpercaya, seperti perusahaan utilitas, toko, atau bank. Mengklik tautan dalam email ini dapat mengunduh malware atau mengarahkan korban ke situs lain tempat informasi mereka dapat dicuri.
  • Biometric spoofing. Penyerang mereplikasi karakteristik biometrik manusia, seperti sidik jari, untuk menipu perangkat keamanan.
  • MAC address spoofing. Penyerang mengubah alamat kontrol akses media (MAC) perangkat jaringan untuk menyamar sebagai perangkat lain.
  • Frame spoofing. Juga dikenal sebagai Ethernet frame spoofing, teknik ini memungkinkan penyerang memalsukan informasi sumber atau tujuan dalam frame Ethernet.
  • Internet Protocol spoofing. Penyerang mengubah alamat IP sumber paket jaringan untuk menyembunyikan identitas mereka.
  • Data replay attacks. Penyerang mencegat paket data, merekam transmisi, lalu memutarnya kembali untuk menargetkan sistem.
  • Authentication replay attacks. Penyerang menangkap data otentikasi, seperti nama pengguna dan kata sandi, untuk mendapatkan akses tanpa izin.

Bagaimana antispoofing diterapkan?

Teknologi antispoofing biasanya terdiri dari perangkat pemindaian yang dirancang untuk mencari pola kode yang dapat dibandingkan dengan daftar lokasi spoofing yang diketahui. Jika ada kecocokan, sistem akan memblokir kode agar tidak melewati perangkat tersebut.

Paket jaringan yang dipalsukan dideteksi berdasarkan aturan yang diterapkan pada gateway jaringan, seperti firewall atau router. Misalnya, aturan dapat dikonfigurasi untuk menggunakan ingress filtering guna menyaring paket dengan alamat IP sumber yang bertentangan.

Teknologi antispoofing

Banyak solusi tersedia untuk melindungi dari spoofing dan malware lainnya. Sebagian besar produk keamanan mencakup alat antispoofing dan antiphishing, serta sumber daya untuk memblokir virus, spam, dan serangan siber lainnya.

Perkembangan terbaru dalam teknologi antispoofing

Dengan semakin canggihnya teknik spoofing, solusi antispoofing juga terus berkembang. Beberapa perkembangan terbaru meliputi:

  • AI dan Machine Learning. Teknologi kecerdasan buatan digunakan untuk mendeteksi pola anomali dalam lalu lintas jaringan dan mengidentifikasi paket yang mungkin dipalsukan.
  • Blockchain untuk keamanan data. Teknologi blockchain mulai digunakan dalam verifikasi identitas digital dan komunikasi aman untuk mencegah spoofing.
  • Otentikasi multifaktor (MFA). Implementasi MFA yang lebih ketat membantu mengurangi keberhasilan serangan autentikasi replay.
  • Zero Trust Security Model. Model keamanan ini memastikan bahwa semua akses diverifikasi sebelum diizinkan, sehingga mengurangi dampak spoofing.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *