asymmetric cyber attack atau Serangan siber asimetris mengacu pada perang siber yang menyebabkan kerusakan yang jauh lebih besar dibandingkan dengan sumber daya yang digunakan, dengan cara menyerang titik keamanan terlemah dari korban. Dalam jenis serangan ini, pelaku memiliki keuntungan yang tidak adil (atau asimetris) atas korban dan seringkali sulit dideteksi. Biasanya, pelaku serangan ini tidak mampu bersaing dalam hal kekuatan atau jumlah, sehingga metode ini menjadi pilihan populer bagi kelompok intelijen kecil.
Serangan siber asimetris semakin umum karena biayanya yang rendah, peralatan yang mudah didapatkan, dan potensi kerusakan yang besar. Untuk mencegah serangan seperti ini, perusahaan, pemerintah, dan jaringan harus menyadari kerentanannya sendiri dan membuat strategi untuk menangani titik-titik lemah tersebut. Serangan siber asimetris harus dianggap sebagai ancaman serius karena dampaknya yang merugikan, tidak mengenal batas wilayah, dan sulit diawasi secara spesifik.
Fitur Serangan Siber Asimetris
- Teknologi: Serangan siber tidak konvensional karena teknologi membutuhkan lebih sedikit perencanaan dan biaya dibandingkan dengan aktivitas teroris fisik.
- Taktik: Sifat asimetris membuat rencana serangan tidak adil, sulit dilacak, dan menghilangkan keunggulan korban.
- Eksploitasi: Untuk meningkatkan peluang keberhasilan, pelaku serangan asimetris mempelajari kerentanan korban (seperti program yang usang atau langkah keamanan yang diabaikan) dan menyusun strategi berdasarkan hal tersebut.
- Dampak: Serangan siber asimetris dirancang untuk menyebabkan kerusakan sebanyak mungkin secara fisik dan psikologis, termasuk menciptakan rasa takut, kebingungan, dan kejutan.
Contoh Serangan Siber Asimetris
Dalam keamanan siber, serangan asimetris bisa melibatkan pelaku yang menyerang langkah keamanan yang telah diterapkan, seperti firewall atau sistem deteksi intrusi, dengan memanfaatkan kelemahan terlemah (seperti pengguna jaringan yang belum memperbarui patch keamanan atau menggunakan kata sandi lemah). Contoh spesifiknya adalah:
- Serangan pada 11 September 2001 di New York City tidak seimbang dalam hal jumlah tenaga kerja dan intelijen, tetapi memanfaatkan kelemahan dalam transportasi udara dan kebijakan global untuk merusak jaringan komputer sekaligus menyebabkan kehancuran fisik.
- Pada 2013, Syrian Electronic Army meretas akun Twitter Associated Press dan mengklaim bahwa Presiden Obama terluka akibat ledakan di Gedung Putih. Aksi sederhana ini menyebabkan kekacauan besar karena pasar saham anjlok sebagai respons terhadap tweet tersebut.