Apa itu Client-Side Framework?
Client-side framework adalah kerangka kerja pengembangan perangkat lunak yang berfokus pada eksekusi proses aplikasi di perangkat pengguna akhir, bukan di server aplikasi itu sendiri. Salah satu manfaat utama dari client-side framework adalah kemampuannya membantu pengembang menghindari tantangan dalam menulis kode aplikasi native untuk berbagai jenis perangkat dan sistem operasi.
Berbeda dengan server-side framework yang biasanya menggunakan compiler dan berjalan di web server, client-side framework biasanya dibangun menggunakan pustaka JavaScript dan berjalan langsung di browser, seperti React, Angular, atau Vue. Banyak pengembang web memilih membangun aplikasi mereka di atas pustaka framework client-side karena menyediakan akses ke berbagai API standar maupun eksklusif yang terkait dengan browser web. Setiap client-side framework memiliki karakteristik dan fungsi yang berbeda.
Berikut adalah beberapa framework client-side yang paling populer:
Angular
Awalnya dikenal sebagai AngularJS, Angular adalah framework JavaScript front-end open-source yang dapat digunakan di berbagai platform. Framework ini dikembangkan oleh Google untuk memungkinkan pengembang menciptakan aplikasi web yang dinamis dan interaktif.
Dengan Angular, pengembang bisa membangun aplikasi front-end tanpa perlu menggunakan plugin atau framework tambahan. Beberapa situs populer seperti Netflix telah dibangun menggunakan Angular.
React
Dikembangkan dan dikelola oleh Facebook, React adalah pustaka JavaScript front-end yang bersifat deklaratif dan dirancang untuk membantu pengembang membangun antarmuka pengguna dengan pendekatan “belajar sekali, gunakan di mana saja”. Framework ini sangat cocok untuk aplikasi berbasis single-page maupun aplikasi mobile karena mudah digunakan, scalable, dan cepat.
Backbone.js
Backbone.js adalah framework JavaScript yang menggunakan model-view-presenter untuk memungkinkan pengembang membangun aplikasi web berbasis single-page. Beberapa platform besar seperti Airbnb, Hulu, Netflix, dan LinkedIn Mobile menggunakan Backbone.js karena framework ini ringan dan banyak didukung oleh komunitas.
Keunggulan utama Backbone adalah pemisahan antara logika bisnis dan antarmuka pengguna, sehingga pengembang dapat melakukan perubahan pada logika aplikasi tanpa mempengaruhi UI, dan sebaliknya. Karena sifatnya yang fleksibel dan ringan, Backbone bisa digunakan dengan berbagai bahasa back-end maupun template front-end.
Bootstrap
Dikembangkan oleh Twitter, Bootstrap adalah framework open-source berbasis HTML, CSS, dan JavaScript yang digunakan untuk membangun website responsif dan mobile-friendly. Bootstrap banyak digunakan oleh perusahaan seperti Lyft, Vogue, dan Newsweek.
Cordova
Cordova adalah framework open-source untuk pengembangan aplikasi mobile yang didukung oleh Apache. Framework ini memungkinkan aplikasi web standar dikemas dan disajikan sebagai aplikasi mobile native. Beberapa perusahaan besar seperti Oracle, SAP, dan IBM menggunakan Cordova.
Cordova menyediakan Node-API yang menghubungkan bahasa web standar dengan fitur native perangkat, seperti GPS, kamera, dan akselerometer. Dengan Cordova, pengembang bisa membangun aplikasi menggunakan bahasa web biasa, tetap dapat mengakses fitur native, dan memasarkan aplikasi mereka di toko aplikasi resmi.
Vue
Vue adalah framework progresif yang digunakan untuk membangun antarmuka pengguna. Pustaka intinya hanya berfokus pada bagian tampilan (view) dan bisa dengan mudah diintegrasikan dengan pustaka lain atau proyek yang sudah ada. Jika digunakan bersama modern tooling dan pustaka pendukung, Vue dapat digunakan untuk membangun aplikasi single-page yang kompleks.