Apa Itu Data Broker (Information Broker)?
Data broker, yang juga dikenal sebagai information broker atau information reseller, adalah bisnis yang mengumpulkan sejumlah besar informasi pribadi tentang konsumen. Data broker tidak hanya mengumpulkan, tetapi juga menganalisis dan menggabungkan data tersebut sebelum menjual atau memberikan lisensi informasi tersebut kepada pihak ketiga, baik individu maupun organisasi. Pihak ketiga ini kemudian menggunakan data yang dibeli untuk berbagai tujuan seperti pemasaran, mitigasi risiko, deteksi penipuan, dan lain sebagainya.
Data broker mengumpulkan informasi pribadi dari berbagai sumber, baik yang bersifat publik maupun nonpublik. Mereka dapat memperoleh data dari catatan pengadilan, daftar pemilih, data sensus, catatan properti, departemen kendaraan bermotor, atau kantor pencatatan sipil, termasuk akta pernikahan dan akta kelahiran. Selain itu, mereka juga dapat membeli data dari sumber komersial seperti perusahaan ritel atau penyedia layanan kartu kredit.
Dalam beberapa kasus, data broker mengumpulkan informasi pribadi melalui cookie browser, baik dengan membeli data dari penyedia layanan web atau memasang cookie mereka sendiri. Mereka juga bisa mendapatkan data dari aplikasi seluler, media sosial, atau program kartu loyalitas. Karena data dikumpulkan dari begitu banyak sumber dan lokasi di seluruh dunia, data broker memiliki pasokan informasi pribadi yang hampir tidak terbatas.
Jenis Informasi yang Dikumpulkan oleh Data Broker
Data broker terus memperbarui basis data mereka agar memiliki informasi yang paling akurat dan lengkap tentang setiap individu. Dari data yang dikumpulkan, mereka dapat menyusun profil rinci yang mungkin mencakup ribuan poin data. Berikut adalah beberapa contoh jenis informasi yang dapat dikumpulkan oleh data broker tentang seseorang:
- Nama lengkap.
- Usia dan jenis kelamin.
- Ras dan etnisitas.
- Orientasi seksual.
- Nomor Jaminan Sosial atau ID nasional lainnya.
- Alamat saat ini dan sebelumnya.
- Alamat email dan nomor telepon.
- Status pernikahan dan hubungan keluarga.
- Pekerjaan dan riwayat karier.
- Pendapatan dan riwayat keuangan, termasuk kebangkrutan.
- Masalah hukum dan catatan kriminal.
- Pendidikan dan riwayat dinas militer.
- Aset properti dan investasi lainnya.
- Riwayat pembelian dan kebiasaan belanja.
- Riwayat medis dan kesehatan mental.
- Minat, hobi, dan pandangan politik.
- Profil media sosial.
- Data lokasi GPS.
Setelah mengumpulkan semua informasi ini, data broker menjalankan analisis lanjutan pada data untuk mengidentifikasi pola serta mengelompokkan profil ke dalam kategori yang dapat dijual atau diberikan lisensi kepada perusahaan lain. Sebagai contoh, data broker mungkin menyediakan data tentang penggemar pickleball. Seorang retailer dapat membeli data ini untuk membantu memasarkan produk perlengkapan pickleball terbaru mereka.
Beberapa data broker kini juga menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk menyimpulkan lebih banyak detail tentang setiap individu, sehingga menghasilkan profil yang lebih kaya akan informasi, termasuk data asumsi berdasarkan pola perilaku. Namun, hal ini bisa menyebabkan pengungkapan informasi pribadi yang lebih luas atau bahkan penilaian yang salah yang dapat berdampak negatif bagi individu tersebut.
Informasi Apa yang Dijual oleh Data Broker?
Data broker menjual berbagai macam informasi pribadi kepada banyak organisasi. Saat ini, tidak ada standar atau regulasi industri yang secara spesifik mengatur jenis data yang boleh dikumpulkan atau bagaimana data tersebut diperdagangkan. Meskipun begitu, informasi yang mereka jual umumnya terbagi dalam beberapa kategori berikut:
- Marketing dan Periklanan. Perusahaan membeli data jenis ini untuk memasarkan produk dan layanan mereka dengan lebih efektif. Dengan data ini, mereka bisa menargetkan iklan, penawaran khusus, dan strategi pemasaran lainnya dengan lebih akurat. Contoh yang paling sering kita temui adalah iklan bertarget yang muncul setelah kita mencari sesuatu di internet.
- Risk Mitigation. Institusi keuangan, perusahaan asuransi, dan organisasi lainnya menggunakan data ini untuk menilai risiko dari calon pelanggan atau transaksi tertentu. Informasi yang digunakan bisa berupa skor kredit, tingkat utang saat ini, pendapatan, dan data lain yang membantu dalam penentuan tingkat risiko. Contohnya, bank bisa menggunakan data ini untuk memutuskan apakah seorang pelanggan layak mendapatkan pinjaman mobil dan berapa tingkat suku bunga yang dikenakan.
- Fraud Detection. Bank dan institusi keuangan lainnya menggunakan data ini untuk memantau aktivitas akun pelanggan dan mengidentifikasi potensi penipuan. Misalnya, perusahaan kartu kredit bisa memanfaatkan informasi ini untuk mendeteksi aktivitas mencurigakan yang bisa mengindikasikan tindakan fraud.
- Pencarian Orang. Situs web yang menjual informasi tentang individu tertentu menggunakan data ini untuk mendukung layanan mereka. Sebagai contoh, perusahaan properti dapat menggunakan layanan ini untuk melakukan pemeriksaan latar belakang calon penyewa, atau bisnis yang sedang merekrut karyawan mungkin ingin memeriksa catatan kriminal kandidat.
Kategori ini tidak selalu didefinisikan dengan cara yang sama di semua sumber. Beberapa sumber menggabungkan risk mitigation dan fraud detection dalam satu kategori, sementara sumber lain menambahkan kategori khusus untuk data kesehatan, yang sering digunakan oleh perusahaan asuransi kesehatan atau perusahaan farmasi untuk kepentingan pemasaran.
Bagaimana Regulasi terhadap Data Broker?
Saat ini, belum ada undang-undang federal di AS yang mewajibkan data broker untuk memberikan akses kepada konsumen terhadap data mereka atau yang melarang mereka menjual data kepada bisnis yang sah. Namun, beberapa negara bagian di AS mulai lebih memperhatikan perlindungan privasi. California menjadi pelopor dalam upaya ini dengan California Consumer Privacy Act (CCPA), yang memberikan hak kepada konsumen untuk mengetahui data apa saja yang telah dikumpulkan tentang mereka serta mengajukan permohonan penghapusan data tersebut.
Di luar AS, beberapa negara juga mulai mengambil langkah untuk melindungi data pribadi. Salah satu regulasi paling terkenal adalah General Data Protection Regulation (GDPR) di Uni Eropa. Berdasarkan GDPR, organisasi harus mendapatkan persetujuan eksplisit dari individu sebelum dapat mengolah data pribadi mereka dalam bentuk apa pun. Selain itu, konsumen juga memiliki hak untuk meminta penghapusan data mereka.
Untuk meningkatkan transparansi, salah satu data broker besar, Acxiom, telah membuat pusat privasi berbasis web yang memungkinkan konsumen di AS dan negara lain untuk mengontrol data pribadi mereka. Misalnya, konsumen di AS dapat melihat informasi apa saja yang telah dikumpulkan oleh Acxiom tentang mereka dan mengajukan permintaan penghapusan data. Meski langkah ini dianggap sebagai kemajuan, beberapa kritikus menilai bahwa pusat privasi ini hanyalah cara lain bagi perusahaan untuk mengumpulkan lebih banyak data.
Untuk membantu konsumen lebih memahami hak mereka terkait privasi data, organisasi nonprofit Privacy Rights Clearinghouse menyediakan berbagai sumber daya terkait akses informasi dan memberikan panduan, termasuk laporan, panduan, dan tinjauan hukum tentang perlindungan data.