Apa itu decision-making process (Proses Pengambilan Keputusan)?

Proses pengambilan keputusan adalah serangkaian langkah yang dilakukan oleh satu atau lebih individu untuk menentukan pilihan terbaik atau tindakan yang harus diambil guna mengatasi masalah atau situasi tertentu. Sering kali, manajer dan eksekutif menggunakan proses ini untuk merencanakan inisiatif bisnis atau menentukan tindakan yang harus dilakukan. Idealnya, keputusan bisnis didasarkan pada analisis fakta objektif, yang didukung oleh kecerdasan buatan (AI) atau teknologi dan alat canggih lainnya.

7 Langkah dalam Proses Pengambilan Keputusan

Saat merencanakan strategi atau inisiatif, atau ketika merespons suatu masalah atau ancaman, pengambil keputusan sering kali harus memilih dari beberapa opsi. Ada banyak alternatif yang harus dipertimbangkan serta keputusan yang harus dibuat secara berkelanjutan. Oleh karena itu, penerapan proses pengambilan keputusan yang efektif menjadi elemen krusial dalam keberhasilan pengelolaan operasi bisnis.

Proses pengambilan keputusan bervariasi dalam hal jumlah langkah dan tujuan masing-masing langkah. Umumnya, proses ini melibatkan tujuh langkah berikut atau langkah serupa:

  1. Menentukan keputusan yang harus dibuat. Tim pengambil keputusan harus secara jelas mengidentifikasi keputusan yang harus diambil. Semua anggota tim harus memahami sepenuhnya situasi yang melatarbelakangi keputusan tersebut serta tujuan yang ingin dicapai. Tidak boleh ada ambiguitas dalam masalah atau situasi yang terlibat. Semakin jelas keputusan yang akan diambil dan alasan di baliknya, semakin mudah proses selanjutnya dan semakin baik hasilnya.
  2. Mengumpulkan informasi yang relevan. Setelah keputusan ditentukan, tim harus mengumpulkan semua informasi yang relevan. Informasi ini bisa berupa data historis terkait masalah tersebut atau referensi dari upaya serupa dalam organisasi yang pernah berhasil atau gagal. Tim juga dapat mencari informasi eksternal seperti studi atau riset pasar. Dalam beberapa kasus, tim mungkin perlu berkonsultasi dengan kolega eksternal atau menyewa konsultan.
  3. Mengidentifikasi solusi yang memungkinkan. Setelah mengumpulkan informasi yang diperlukan, tim dapat mulai mengidentifikasi opsi potensial untuk menyelesaikan masalah. Misalnya, tim harus menentukan cara memperluas kapasitas penyimpanan untuk tahun mendatang. Solusi yang memungkinkan bisa mencakup pembelian sistem penyimpanan baru, menggunakan layanan cloud, memanfaatkan kembali sistem yang sudah ada, menyewa peralatan, atau opsi lainnya. Ini adalah waktu yang tepat untuk berpikir kreatif dan melakukan brainstorming, meskipun daftar akhir solusi hanya mencakup yang paling layak.
  4. Mengevaluasi solusi yang memungkinkan. Tim harus mengevaluasi setiap solusi dengan cermat, mengidentifikasi kelebihan dan kelemahannya. Mereka juga dapat melihat contoh serupa di dalam maupun di luar organisasi. Dalam beberapa kasus, beberapa alternatif mungkin dieliminasi karena kendala yang jelas. Evaluasi juga harus mencakup analisis dampak terhadap pemangku kepentingan utama dan persyaratan implementasi.
  5. Memilih solusi terbaik. Setelah mengevaluasi berbagai opsi, tim harus memilih solusi yang paling sesuai dengan kebutuhan mereka. Dalam beberapa kasus, pilihan terbaik mungkin sudah jelas. Namun, dalam kasus lain, tim perlu menimbang kelebihan dan kekurangan beberapa opsi yang menjanjikan. Bisa jadi, keputusan terbaik adalah mengombinasikan beberapa alternatif menjadi satu solusi menyeluruh.
  6. Menerapkan solusi yang dipilih. Setelah keputusan dibuat, saatnya untuk bertindak. Tim harus mengembangkan rencana implementasi yang terperinci dengan tanggung jawab yang jelas. Setiap keputusan memiliki konsekuensi, sehingga perencanaan harus mempertimbangkan tantangan yang mungkin muncul serta strategi untuk mengatasi hambatan yang tidak terduga. Komunikasi yang terbuka sangat penting, serta peran dan harapan yang didefinisikan dengan jelas.
  7. Meninjau solusi yang telah diterapkan. Setelah solusi diimplementasikan, tim harus mengevaluasi penerapannya dan keputusan yang diambil. Tim harus memastikan solusi yang diterapkan menyelesaikan masalah awal. Jika tidak, mereka mungkin perlu mengulang sebagian proses pengambilan keputusan. Tim juga dapat mengevaluasi apakah alternatif lain bisa menghasilkan hasil yang lebih baik. Ini juga merupakan waktu yang baik untuk meninjau keseluruhan proses pengambilan keputusan guna meningkatkan efektivitasnya di masa depan.

Apa itu Model Pengambilan Keputusan?

Model pengambilan keputusan adalah sistem atau proses yang dapat diikuti atau ditiru oleh individu untuk memastikan mereka membuat pilihan terbaik di antara berbagai opsi. Model ini mempermudah proses pengambilan keputusan dengan menyediakan panduan bagi bisnis untuk mencapai kesimpulan yang menguntungkan.

Model pengambilan keputusan juga membuat proses ini menjadi lebih transparan dan mudah dikomunikasikan kepada semua pihak yang terlibat, termasuk manajer, karyawan, dan pemangku kepentingan lainnya. Model ini dapat diterapkan di berbagai departemen, bisnis, dan industri, terutama saat memilih vendor perangkat lunak, menentukan arah tindakan baru, atau menerapkan perubahan yang berdampak luas.

Jenis-Jenis Model Pengambilan Keputusan

Model pengambilan keputusan sering menggabungkan, menyederhanakan, atau memperluas tujuh langkah pengambilan keputusan yang telah dijelaskan sebelumnya. Pendekatan yang digunakan bergantung pada model yang diterapkan serta individu yang mengimplementasikannya.

Jenis model pengambilan keputusan yang umum meliputi:

  • Model Rasional: Model ini berfokus pada pencatatan sebanyak mungkin alternatif tindakan yang memungkinkan. Setelah semua opsi diidentifikasi, opsi tersebut dievaluasi untuk menentukan mana yang terbaik.
  • Model Intuitif: Model ini lebih mengandalkan pengalaman dan pengetahuan yang telah terkumpul dibandingkan dengan langkah-langkah formal.
  • Model Keputusan Primed Recognition (RPD): Model ini menggabungkan pendekatan rasional dan intuitif dengan mempertimbangkan hanya satu opsi, bukan menimbang semua opsi.
  • Model Kreatif: Dalam model ini, pengambil keputusan mengumpulkan informasi, mengembangkan solusi awal, lalu membiarkan alam bawah sadar mereka bekerja sebelum akhirnya menemukan jawaban.

Pengambilan Keputusan Berbasis Data

Tradisionalnya, manajer atau eksekutif bisnis membuat keputusan berdasarkan pemahaman intuitif mereka terhadap situasi. Namun, pendekatan ini memiliki kelemahan karena sulit untuk membenarkan keputusan setelah diambil. Oleh karena itu, bisnis modern lebih mengandalkan pendekatan berbasis data yang lebih sistematis.

Jika dirancang dengan baik, proses pengambilan keputusan berbasis data dapat mengurangi kemungkinan bias individu yang menghasilkan keputusan buruk. Namun, data juga memiliki keterbatasan. Oleh karena itu, penting untuk selalu mengamati dampak keputusan bisnis dan memastikan analisis serta pengambilan keputusan diawasi dengan baik.

Tantangan dalam Pengambilan Keputusan

Menyeimbangkan pendekatan berbasis data dan intuisi dalam pengambilan keputusan tidaklah mudah. Oleh karena itu, organisasi harus mengadopsi strategi komunikasi yang transparan serta menerapkan kebijakan yang mendukung penerapan keputusan dengan lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *