Disciplined Agile Delivery (DAD)

Disciplined Agile Delivery (DAD) adalah sebuah kerangka kerja Agile yang skalabel untuk pengembangan dan pengiriman perangkat lunak. Pendekatan DAD berfokus pada manusia terlebih dahulu dan mengutamakan pembelajaran dalam proses pengembangan perangkat lunak.

DAD merupakan hasil gabungan dari berbagai kerangka kerja Agile yang sering digunakan oleh tim pengembang, seperti Scrum dan Lean software development. Tujuannya adalah untuk menyatukan kerangka kerja-kerangka kerja tersebut ke dalam satu framework yang lebih terstruktur. DAD hadir untuk mengisi celah proses yang belum tercakup oleh metodologi Agile lainnya, dan menghadirkan pendekatan Agile yang lebih menyeluruh dan efisien di level perusahaan.

DAD sendiri merupakan bagian dari toolset Disciplined Agile.

Bagaimana awal mula DAD dikembangkan?

DAD pertama kali dikenalkan oleh Scott Ambler dan Mark Lines. Istilah ini diperkenalkan oleh Ambler melalui white paper tahun 2013 berjudul “Going Beyond Scrum: Disciplined Agile Delivery.” Konsep tersebut kemudian diperkuat melalui buku mereka yang berjudul Choose Your WoW! A Disciplined Agile Delivery Handbook for Optimizing Your Way of Working, yang kini sering dijadikan rujukan utama untuk memahami DAD.

Mereka menyusun metodologi ini setelah mengamati bagaimana konsep Agile dapat diimplementasikan dalam skala perusahaan. Mereka menyadari bahwa Scrum hanya efektif di level tim, tapi kurang memadai untuk menyelesaikan persoalan di level organisasi. Selain itu, mereka juga menemukan bahwa istilah-istilah dalam Agile kadang membingungkan dan tidak konsisten.

DAD menjadi pondasi dari framework Disciplined Agile (DA) yang dirilis pada 2015 dan kemudian berkembang menjadi toolkit Disciplined Agile pada 2018. Dua lapisan tambahan — Disciplined DevOps dan Disciplined Agile IT (DAIT) — juga ditambahkan, menjadikan framework ini sebagai pendekatan komprehensif terhadap DevOps dan proses IT skala enterprise. Framework DA adalah kumpulan kerangka kerja Agile yang memiliki tujuan serupa dengan DAD, di mana DAD menjadi lapisan fondasi dan sisanya merupakan pengembangannya dalam skala lebih besar.

Prinsip utama dari Disciplined Agile Delivery

Berikut adalah prinsip-prinsip utama yang jadi fondasi DAD:

  • Delight customers. Tim harus memikirkan kebutuhan pelanggan sejak tahap awal pengembangan. Setelah produk rilis, penting untuk terus mengumpulkan feedback agar kepuasan pelanggan tetap terjaga.
  • Be awesome. Tim perlu tetap termotivasi dan saling mendukung. Ini membangun kepercayaan dan rasa tanggung jawab, serta menjaga kualitas produk sejak awal.
  • Context counts. Setiap tim, individu, dan organisasi memiliki tujuan dan cara kerja yang berbeda. Karena itu, konteks selalu penting untuk dipertimbangkan.
  • Be pragmatic. Prinsip Agile kadang dijalankan terlalu kaku, padahal kondisi ideal jarang ada di dunia nyata. DAD mendorong tim untuk bersikap realistis dan mencari cara yang paling efisien, bukan sekadar mengikuti aturan.
  • Choice is good. DAD memberi fleksibilitas agar tim bisa memilih strategi terbaik sesuai kebutuhan, tanpa harus terpaku pada satu pendekatan.
  • Optimize flow. Fokus utamanya adalah meminimalkan work in progress, visualisasi alur kerja, penghapusan pemborosan, perbaikan berkelanjutan, serta penggunaan metrik yang jelas. Tim yang stabil dan tidak sering berganti anggota juga jadi prioritas.
  • Organize around products/services. Tim sebaiknya menyusun pekerjaan berdasarkan produk atau layanan yang dibutuhkan pengguna. Ini mirip dengan pendekatan value stream, tapi lebih eksplisit.
  • Enterprise awareness. Tim perlu sadar akan peran mereka dalam arsitektur organisasi yang lebih besar, termasuk bagaimana proses dan output mereka berdampak pada tim lain dan sebaliknya.

Fase dan jenis siklus hidup dalam framework DAD

Ada tiga fase utama dalam framework DAD yang menandai tahapan pengembangan produk, yaitu: inception, construction, dan transition.

Ada enam jenis siklus hidup (lifecycle) dalam DAD, dan tiap jenis memiliki karakteristik yang berbeda walaupun tetap melalui ketiga fase utama tersebut. Keenamnya adalah:

  • The Agile Lifecycle. Berdasarkan Scrum, menggunakan iterasi serta daftar pekerjaan (work item list) menggantikan backlog produk.
  • The Lean Lifecycle. Berdasarkan Kanban. Perbedaannya dengan Agile adalah pertemuan dan perencanaan iterasi dilakukan sesuai kebutuhan, bukan dijadwalkan rutin.
  • Continuous Delivery: Agile Lifecycle. Versi Agile dengan iterasi yang lebih pendek dan pengiriman yang lebih sering.
  • Continuous Delivery: Lean Lifecycle. Versi Lean dengan iterasi pendek dan rilis lebih cepat.
  • The Exploratory Lifecycle. Mengusung pendekatan “fail fast” untuk mengeksplorasi pasar saat produk masih belum terdefinisi jelas.
  • The Program Lifecycle. Fokus pada pengelolaan tim besar atau sekumpulan tim dalam satu kerangka kerja.

Pemilihan lifecycle sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan dan kapabilitas tim, karena masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.

Peran-peran utama dalam tim DAD

DAD mendefinisikan lima peran utama yang umum dalam tim Agile dan organisasi:

  • Stakeholder. Siapa pun yang terdampak langsung oleh produk, seperti user, manajer, atau product owner.
  • Product owner. Bertindak sebagai representasi pelanggan, menyuarakan kebutuhan pengguna ke stakeholder dan tim.
  • Team member. Orang-orang yang langsung terlibat dalam pembangunan produk. Mereka mengerjakan tugas, melaporkan progres, dan menjaga komunikasi dengan stakeholder.
  • Team lead. Pemimpin yang bersifat servant leader, membantu tim secara teknis dan menciptakan lingkungan kerja yang kondusif.
  • Architecture owner. Bertanggung jawab atas arsitektur produk, mengelola risiko teknis, dan menyediakan solusi desain.

Selain itu, ada peran-peran sekunder yang bersifat kontekstual dan sementara, seperti:

  • Specialist. Misalnya business analyst yang membantu mengidentifikasi kebutuhan produk.
  • Domain/subject matter expert. Dibawa oleh product manager untuk menjawab pertanyaan teknis atau menjelaskan visi proyek.
  • Technical expert. Bergabung sementara untuk menangani masalah teknis kompleks.
  • Independent tester. Bekerja bersama tim untuk memvalidasi hasil kerja secara berkelanjutan.
  • Integrator. Mengatur koordinasi antar tim besar agar tetap sinkron.

Perlu dicatat, peran-peran ini fleksibel. Seseorang bisa memegang lebih dari satu peran, dan dalam tim yang self-organizing, anggota tim bisa saling melengkapi sesuai kebutuhan.

Contoh implementasi Disciplined Agile Delivery

Walaupun awalnya dikembangkan untuk tim pengembang software, DAD juga cocok digunakan untuk berbagai jenis pekerjaan. Misalnya, tim penulis konten yang melakukan continuous delivery untuk situs web. Mereka bisa menggunakan prinsip Agile dan Lean seperti Scrum dan Kanban untuk merencanakan, membangun, dan mengirimkan konten sambil menyesuaikan berdasarkan feedback yang masuk. Contoh lain adalah tim manajemen portofolio yang memakai DAD untuk memilih dan mengelola proyek demi mencapai tujuan strategis organisasi.

Perbandingan DAD vs. SAFe

DAD dan SAFe (Scaled Agile Framework) sama-sama merupakan framework Agile skala besar. Keduanya punya tujuan serupa, namun pendekatannya berbeda. SAFe dianggap lebih kaku dan cenderung menggunakan pendekatan top-down serta bersifat preskriptif. Sebaliknya, DAD lebih fleksibel, menggunakan pendekatan bottom-up, dan fokus pada perbaikan proses daripada terpaku pada satu cara tertentu.

Catatan editor: Artikel ini telah diformat ulang untuk meningkatkan pengalaman membaca.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *