Apa itu just-in-time manufacturing (JIT manufacturing)?

Just-in-time manufacturing (JIT manufacturing) adalah model produksi di mana barang diproduksi sesuai permintaan, bukan dibuat secara berlebih atau jauh sebelum dibutuhkan. Organisasi mengadopsi pendekatan JIT untuk meningkatkan efisiensi, menurunkan biaya, dan mempercepat pengiriman produk. Namun, agar tujuan tersebut tercapai, mereka harus menghilangkan berbagai jenis pemborosan yang umum terjadi dalam proses manufaktur, seperti produksi berlebih, waktu tunggu yang tidak perlu, dan inventaris yang terlalu banyak — barulah strategi JIT bisa berjalan dengan efektif.

Sejarah JIT manufacturing

Metodologi JIT, yang juga dikenal sebagai model produksi Lean, umumnya diasosiasikan dengan para produsen di Jepang pasca-Perang Dunia II. Karena keterbatasan modal kerja dan sumber daya alam, perusahaan-perusahaan Jepang harus mengadopsi praktik bisnis yang ramping dan efisien dalam proses produksi mereka. Ini berarti membangun pabrik yang lebih kecil dan memproduksi barang dalam jumlah kecil, sambil memperhatikan efisiensi proses produksi mereka.

Toyota berada di garis depan penerapan JIT di Jepang, dan mereka melakukannya dengan sangat sukses hingga pendekatan ini kemudian dikenal sebagai Toyota Production System (TPS). Menurut filosofi TPS, produsen bisa menghadapi tujuh jenis pemborosan:

  1. Overproduction (Produksi berlebih). Barang yang diproduksi melebihi kebutuhan pelanggan saat ini.
  2. Waiting (Menunggu). Barang tertunda karena proses lainnya belum selesai.
  3. Inventory (Inventaris). Terlalu banyak persediaan yang harus disimpan dan dikelola.
  4. Transportation (Transportasi). Bahan atau produk dipindahkan secara tidak perlu dalam proses produksi.
  5. Processing (Pemrosesan). Pemrosesan yang tidak efisien menyebabkan usaha, peralatan, atau waktu yang terbuang.
  6. Motion (Gerakan). Pekerja bergerak tidak efisien dan tidak perlu selama proses produksi.
  7. Defects (Cacat). Produk cacat membuang waktu, bahan, dan tenaga, serta bisa merusak reputasi perusahaan.

Toyota berhasil besar dalam mengurangi ketujuh jenis pemborosan ini, itulah kenapa mereka sering dianggap sebagai pelopor strategi JIT dalam industri manufaktur. Tapi sebenarnya, Henry Ford sudah mengemukakan konsep serupa dalam bukunya tahun 1923, My Life and Work:

Kami menemukan bahwa dalam membeli bahan, tidak ada gunanya membeli lebih dari kebutuhan saat ini. Kami hanya membeli secukupnya untuk mendukung rencana produksi, dengan mempertimbangkan kondisi transportasi pada saat itu. Kalau sistem transportasi sempurna dan aliran bahan bisa dipastikan, tidak perlu menyimpan stok sama sekali. Muatan bahan baku akan tiba sesuai jadwal dan langsung masuk ke jalur produksi. Ini akan menghemat banyak uang, karena perputaran bahan yang cepat bisa menurunkan jumlah dana yang tertahan di bahan baku.

Meski Ford sudah menyuarakan gagasan tersebut, nyatanya Ford Motor Company belum sepenuhnya menerapkan model JIT saat perwakilan Toyota melakukan kunjungan ke pabrik-pabrik di Amerika Serikat tahun 1956. Justru di Piggly Wiggly — jaringan toko swalayan pertama di AS — mereka menemukan model yang kemudian menjadi dasar sistem JIT mereka sendiri.

Menerapkan metodologi JIT

Metode JIT mengharuskan produsen menjalin hubungan yang kuat dengan pemasok dan memiliki visibilitas rantai pasokan agar bahan baku dapat dikirim dengan andal tanpa gangguan. Mereka juga harus menerapkan proses internal yang terstandarisasi, dengan penekanan pada efisiensi dan komunikasi yang efektif. Selain itu, perusahaan harus terus-menerus mencari cara untuk meningkatkan proses bisnis dan operasional, bahkan ketika semuanya tampak sudah berjalan dengan baik.

Dengan penerapan metodologi JIT secara hati-hati, perusahaan bisa mengurangi tingkat persediaan, menekan biaya jangka panjang, meningkatkan kualitas produk, dan mencapai efisiensi secara keseluruhan. Namun meskipun semua langkah telah dilakukan dengan benar, JIT tetap mengandung risiko. Seperti yang terlihat selama pandemi COVID-19, proses JIT sangat rentan terhadap gangguan pada rantai pasokan. Jika produsen tidak bisa mendapatkan bahan yang dibutuhkan, seluruh proses produksi bisa terhenti total.

Karena risiko ini, sebagian perusahaan beralih ke — atau tetap mempertahankan — sistem just-in-case manufacturing (JIC manufacturing). Dalam pendekatan ini, mereka menyimpan stok dalam jumlah besar untuk mengantisipasi gangguan rantai pasokan atau lonjakan permintaan yang tidak terduga. Namun sistem ini juga datang dengan biaya besar untuk pembelian dan pemeliharaan inventaris. Ke depannya, produsen kemungkinan perlu menemukan keseimbangan antara JIT dan JIC agar bisa mengontrol pengeluaran tanpa mengorbankan ketahanan rantai pasokan.

Lihat juga: perencanaan rantai pasokan, demand signal repository, pengendalian permintaan, dan produksi Lean.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *