Apa itu uptime dan downtime dalam komputasi?
Dalam komputasi, uptime adalah ukuran seberapa lama sebuah komputer atau layanan menyala dan tersedia. Downtime adalah ukuran seberapa lama layanan tersebut tidak tersedia. Layanan mengukur uptime sebagai persentase dari total waktu operasional.
Apa itu uptime?
Uptime memberi tahu pengguna berapa lama sebuah komputer atau layanan telah tersedia. Secara historis, uptime terutama mengukur durasi berturut-turut sebuah komputer menyala sebelum di-reboot atau dimatikan. Hal ini bisa ditampilkan dengan perintah sederhana uptime. Beberapa administrator sistem bangga memiliki uptime yang panjang, terkadang hingga bertahun-tahun. Mereka bahkan mengambil langkah ekstrem seperti menghindari pembaruan atau menerapkan patch pada sistem yang sedang berjalan.
Layanan high availability modern tidak lagi bergantung pada satu komputer untuk berjalan. Server yang menggunakan cluster dan load balancing memungkinkan satu server mati tanpa memengaruhi keseluruhan layanan. Pembaruan bertahap (phased rollouts) diterapkan ke kelompok server tertentu untuk memastikan sebagian server tetap tersedia saat yang lain diperbarui atau di-restart.
Kini, ketersediaan layanan lebih mencerminkan keandalan suatu layanan dibandingkan sekadar uptime. Hal ini sering kali dinyatakan sebagai persentase waktu tersedia dibandingkan dengan waktu tidak tersedia.
Bahkan uptime 99% dianggap tidak dapat diterima bagi banyak layanan. Ini setara dengan sekitar tiga hari downtime dalam setahun. Sebagai gantinya, uptime diukur dalam jumlah “sembilan” dari ketersediaan. Standar emas adalah lima sembilan atau 99,999%, yang berarti hanya sekitar lima menit downtime dalam setahun.
Cara meningkatkan uptime
Strategi untuk meningkatkan uptime meliputi:
- Meminimalkan titik kegagalan tunggal (single point of failure).
- Menggunakan sistem redundansi dengan failover otomatis.
- Menerapkan pembaruan bertahap.
- Menjadwalkan periode pemeliharaan.
Apa itu downtime?
Downtime memberi tahu pengguna berapa lama suatu layanan tidak tersedia. Downtime bisa direncanakan karena pemeliharaan atau tidak direncanakan akibat gangguan. Meskipun mustahil untuk menghilangkan downtime sepenuhnya, sangat penting untuk meminimalkannya. Downtime biasanya mengakibatkan kerugian finansial karena hilangnya pendapatan, pelanggan yang tidak puas, atau penurunan produktivitas pekerja.
Downtime yang direncanakan dan tidak direncanakan dapat ditangani secara berbeda tergantung pada perjanjian tingkat layanan (SLA).
Cara mengurangi downtime
Strategi untuk mengurangi downtime meliputi:
- Memiliki rencana kelangsungan bisnis dan pemulihan bencana.
- Menggunakan sistem pemantauan.
- Menerapkan prosedur manajemen perubahan dengan rencana rollback.
- Menguji sistem failover secara berkala.
Perkembangan terbaru
Seiring berkembangnya teknologi, beberapa tren terbaru dalam uptime dan downtime meliputi:
- Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dan pembelajaran mesin untuk prediksi kegagalan sistem sebelum terjadi downtime.
- Penerapan edge computing untuk mengurangi ketergantungan pada satu pusat data dan meningkatkan ketahanan sistem.
- Peningkatan teknologi container dan Kubernetes untuk memastikan layanan tetap berjalan meskipun terjadi kegagalan infrastruktur.