Apa itu Mabuk Virtual reality (VR motion sickness)?

Penyakit Mabuk virtual reality (VR motion sickness) adalah ketidaknyamanan fisik yang terjadi ketika otak pengguna menerima sinyal yang bertentangan tentang gerakan diri dalam lingkungan digital. VR dan augmented reality (AR) adalah teknologi yang bergantung pada perubahan persepsi visual manusia — melihat, mendengar, dan mengalami lingkungan virtual dan augmented. VR dapat memberikan pengalaman baru yang mendebarkan, yang seakan mengeluarkan pengguna dari realitas fisiknya sendiri. Pengalaman ini bisa membuat bingung dan tidak nyaman bagi sebagian orang, yang berujung pada penyakit VR.

Dengan VR, biasanya ada headset VR yang harus dikenakan oleh pengguna. Headset pada tahun-tahun sebelumnya cenderung sangat besar dan berat. Namun, perangkat terbaru, termasuk seri Meta Quest dan Sony Playstation VR, semakin fokus pada kenyamanan pengguna dan dioptimalkan untuk memberikan perangkat keras yang lebih ringan untuk game dan pengalaman VR. Memakai headset secara virtual membawa pengguna ke dalam lingkungan virtual.

Sensasi melihat dunia virtual melalui headset bisa terasa sangat cepat dan berputar dalam beberapa kasus, dengan banyaknya pemandangan dan suara yang berbeda dari dunia fisik nyata yang sebelumnya dialami oleh pengguna, terlepas dari seberapa nyaman headset itu.

Tidak jarang manusia merasa bingung saat memasuki lingkungan baru. Kebingungan yang dialami pengguna di VR bukanlah tentang mengetahui apa yang harus dilihat atau dilakukan di lingkungan virtual atau game VR. Ini adalah sensasi fisik dengan gejala yang nyata. Penyakit gerakan tradisional terjadi ketika ada gerakan fisik, seperti berada di kendaraan yang bergerak, pesawat terbang, atau rollercoaster. Motion sickness adalah kondisi yang menyebabkan mual, pusing, dan ketidaknyamanan umum. Meskipun tidak ada gerakan fisik dalam VR — dengan perangkat headset — sifat imersif dari lingkungan tersebut menipu otak manusia untuk berpikir bahwa ada gerakan, yang memungkinkan munculnya gejala penyakit gerakan VR.

Selain gejala motion sickness biasa, penyakit VR juga sering dikaitkan dengan sakit kepala, kelelahan mata, dan potensi rasa kantuk. Antara 40% hingga 70% pengguna VR mengalami VR motion sickness setelah hanya 15 menit.

Apa penyebab VR motion sickness?

Penyakit VR umumnya disebabkan oleh ketidaksesuaian sinyal yang dipicu oleh lingkungan VR yang dikirim ke otak dari mata dan telinga bagian dalam pengguna. Ketidaksesuaian antara petunjuk sensorik ini menyebabkan gejala yang merugikan, termasuk mual, pusing, dan ketidaknyamanan, mirip dengan motion sickness tradisional yang dialami saat bepergian di dunia nyata.

Terdapat beberapa studi akademis tentang penyebab mendasar dari VR motion sickness. Misalnya, sebuah studi yang dipublikasikan dalam American Journal of Ophthalmology pada tahun 2019 memeriksa korelasi antara penggunaan headset VR pada anak-anak dan motion sickness. Penelitian ini menemukan bahwa konflik antara petunjuk visual dan vestibular — petunjuk yang berkaitan dengan persepsi individu terhadap gerakan dan posisi — berkontribusi signifikan terhadap timbulnya gejala. Salah satu studi yang paling komprehensif dipublikasikan dalam International Journal of Human-Computing Interaction pada tahun 2020, yang merinci peran deteksi ketidaksesuaian otak dalam perkembangan penyakit virtual reality.

Ada juga penelitian yang mendukung teori bahwa faktor-faktor berikut dapat menyebabkan VR motion sickness:

  • Perangkat keras. Faktor-faktor ini mencakup mode tampilan dan potensi penundaan visual latency. Ada juga indikasi bahwa bidang pandang sempit yang disediakan oleh banyak headset VR dapat menyebabkan perasaan klaustrofobia dan kebingungan.
  • Konten. Faktor-faktor ini meliputi grafik yang bergerak cepat dan situasi yang membingungkan. Konten yang membingungkan atau membingungkan dapat meningkatkan risiko motion sickness. Contohnya termasuk perubahan ketinggian atau kecepatan yang tiba-tiba atau tabrakan tak terduga dengan objek virtual.
  • Manusia. Faktor-faktor ini terkait dengan masalah fisiologi individu yang mungkin membuat seseorang lebih rentan terhadap VR motion sickness daripada yang lain. Ada juga indikasi bahwa menggunakan headset VR dalam waktu lama dapat menyebabkan ketegangan mata, sakit kepala, dan kelelahan, yang meningkatkan kemungkinan motion sickness.

Siapa yang rentan terhadap VR motion sickness?

VR motion sickness dapat memengaruhi siapa saja yang mengenakan headset VR di mata dan telinga mereka. Potensi risiko ini ada untuk individu dari segala usia atau jenis kelamin. Namun, ada beberapa kelompok yang lebih rentan dibandingkan yang lain terhadap kebingungan dan mual akibat VR motion sickness, antara lain:

  • Anak-anak dan remaja muda. Risiko khusus ada pada anak-anak di bawah usia 13 tahun, karena individu dalam kelompok usia ini masih dalam tahap perkembangan sistem vestibular mereka.
  • Perempuan. Beberapa studi menunjukkan bahwa perempuan mungkin lebih rentan untuk merasa mual akibat penggunaan VR dibandingkan laki-laki, meskipun penelitian ini masih jauh dari konklusif.
  • Orang yang biasanya mengalami motion sickness. Individu dari segala usia atau jenis kelamin yang biasa mengalami motion sickness melalui cara fisik, termasuk penyakit terkait perjalanan, seperti mabuk laut, kemungkinan lebih rentan terhadap VR motion sickness. Kelompok ini juga termasuk individu yang memiliki masalah telinga bagian dalam atau sering mengalami sakit kepala migrain.

Bagaimana cara meminimalkan VR motion sickness?

VR motion sickness dapat menjadi penghalang nyata dalam adopsi teknologi VR. Namun, ada beberapa cara untuk pengembang dan pengguna akhir untuk meminimalkan VR motion sickness, antara lain:

  • Mengatur frame rate default. Perbaikan pertama yang dapat dilakukan oleh pengembang perangkat lunak untuk menghindari VR motion sickness adalah dengan mengatur laju frame per detik (FPS) untuk mengurangi waktu tunda. Insinyur VR merekomendasikan agar, alih-alih fokus pada penggunaan lebih banyak daya pemrosesan untuk menciptakan gambar yang lebih tajam, pengembang fokus pada peningkatan kecepatan pembaruan setiap frame setidaknya 90 FPS. Kecepatan ini membantu mengurangi penundaan atau goyangan gambar saat mereka berpindah di layar.
  • Kinerja perangkat keras yang lebih baik. Perangkat keras yang lebih baru dengan kinerja yang ditingkatkan dapat membantu, terutama ketika perangkat keras mengintegrasikan kemampuan untuk mengurangi latensi. Konflik sensorik dapat diperburuk oleh latensi. Jika seorang peserta VR melihat ke kanan saat mengenakan helm VR, misalnya, layar akan bergerak ke kiri untuk memastikan lingkungan digital pemirsa cocok dengan tindakan fisiknya. Meskipun pergeseran ini tampak terjadi dalam waktu nyata, itu terjadi dalam waktu hampir nyata. Meskipun pergerakan di layar tampak segera bagi pemirsa, waktu tunda masih menciptakan ketidaksesuaian antara apa yang diberitahukan mata seseorang dan apa yang dialami sensor tubuh mereka. Perbaikan perangkat keras lainnya termasuk menggunakan headset yang ditempatkan lebih jauh dari wajah pengguna dan menggunakan mixed reality alih-alih VR untuk memberikan titik acuan visual tetap atau horizon.
  • Pengujian. Mungkin cara terbaik untuk menghindari VR motion sickness adalah dengan menguji setiap bidikan saat membuatnya dan mengungkapkan seseorang yang sangat sensitif terhadap frame rate untuk melihat bagaimana reaksi mereka. Pendekatan ini memberi tahu pengembang jika bidikan mereka cukup halus dan bersih untuk membuat pengguna tetap tidak terpengaruh.

Bagaimana pengguna VR dapat menghindari motion sickness?

Meminimalkan kemungkinan VR motion sickness juga merupakan hal yang bisa dilakukan oleh pengguna individu untuk membantu membatasi. Metode yang efektif termasuk:

  • Mulailah dengan sesi singkat dan ambil istirahat. VR berpotensi membingungkan pada awalnya bagi pengguna baru. Pengguna harus memulai dengan sesi yang lebih pendek selama lima hingga 10 menit dan secara bertahap meningkatkan durasi seiring kenyamanan mereka. Setiap kali mereka merasakan gejala awal motion sickness, mereka harus berhenti sejenak.
  • Sesuaikan pengaturan VR. Meskipun pengembang dapat mengatur level default untuk game atau lingkungan virtual, pengguna individu juga bisa. Jika seorang pengguna mengalami masalah, mereka harus menurunkan kualitas grafik dan menyesuaikan pengaturan untuk mengurangi kecepatan dan percepatan gerakan dalam lingkungan VR.
  • Minum air dan hindari makan besar. Tetap terhidrasi adalah kebiasaan baik yang juga penting saat menggunakan VR. Pengguna sebaiknya menghindari makan besar, serta makanan berlemak atau pedas, sebelum mengenakan headset VR.
  • Duduklah daripada berdiri. Risiko motion sickness lebih rendah ketika pengguna duduk, daripada berdiri. Jika memungkinkan, duduklah di kursi yang nyaman dan stabil yang dapat sedikit berputar, dan pastikan kursi tersebut dipasang dengan aman ke lantai.
  • Gunakan perangkat anti-motion sickness VR. Perangkat anti-motion sickness yang didedikasikan berbentuk gelang atau arloji dan dapat memberikan bantuan.
  • Obat-obatan. Obat-obatan umum yang digunakan untuk mengobati motion sickness juga dapat membantu mengatasi VR motion sickness. Obat yang paling umum adalah dimenhidrinat, yang dijual di AS dengan merek dagang Dramamine.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *